La Yukallifullahu Nafsan Illa Wus’aha

Menjelang semester disaster eehhh…maksudnya semester delapan perkuliahan gue sempet ditanya sama babeh, “kapan mulai skripsi?”. reaksi gue adalah: DHUUAAARRR!!! (Bom berjatuhan dimana-mana). Jangankan skripsi, laporan magang atau KKL aja belum kelar dikerjain. Entahlah, gue ngerasa agak males waktu itu untuk menyelesaikan skripsi karena yang terbayang pertama kali adalah birokrasi yang rumit menjelang UP (uji proposal) serta bayangan dosen pembimbing yang killer. Di kampus gue—atau mungkin di kampus kalian juga—birokrasinya masih terasa seperti zaman orba. Ribetnya minta ampun. Okelah misalnya UP lolos dan judul kita diterima. Namun itu belum final, kawan. Kemungkinan perubahan judul di tengah-tengah bimbingan skripsi masih terbuka lebar. Apalagi jika dosen pembimbing merasa judul yang diajukan pada waktu UP  tidak relevan, maka kemungkinan ganti judul besar juga. Masih mending Cuma ganti judul. Yang lebih parah itu kalau ganti isi.

Beres lebaran tahun 2010 gue buru-buru ngerjain skrpsi. Draft pertama masih acak-adut karena memang belum diuji oleh dosen. Rasa males sedunia yang melanda sebagian  besar mahasiswa galau coba gue kesampingkan. Ketika akan mengerjakan skripsi yang terbayang di benak gue adalah dua hal: Harapan ortu agar cepat lulus dan ketakutan gue nggak bisa lulus awal 2011. Gue nggak mau ngerepotin ortu lagi karena mereka udah banyak berkorban selama ini. kemudian bayangan gue nggak bisa lulus tahun 2011 memacu gue untuk terus bergerak nyari bahan skripsi sampe jungkir-balik plus dicecer dosen pembimbing untuk kesekian kalinya. Gue punya kata-kata motivasi yang gue dapat ketika SMP: Allahumma Paksakeun. Ya Allah, paksakan!

Allahumma Paksakeun adalah kata-kata pembangkit semangat yang ditularkan oleh guru gue waktu SMP. Jadi misalnya kalau kita malas mengerjakan sesuatu atau malas bangun subuh, guru gue biasa mengatakan “Allahumma Paksakeun!”. Mereka beranggapan bahwa malas atau mengeluh itu sesuatu yang tidak baik untuk dipelihara. Untuk berbuat baik tak ada salahnya untuk dipaksa, begitu kira-kira. Oleh karena itu, gue mengikuti saran Pak Guru tersebut terutama urusan bangun subuh. Kata-kata “Allahumma Paksakeun!” selalu terpatri dan kenyataannya gue memang bisa bangun subuh. Sayangnya waktu ngantri buat wudhu, gue sama temen-temen yang lain malah ngantri berdiri sambil tidur. Zzzzz…..

Dalam kondisi seperti ini—dijepit realitas skripsi—gue nggak bisa mengandalkan teori-teori pendidikan semisal belajar itu harus rileks, santai, tidak merasa terintimidasi, dan bla…bla…bla…teori itu semua udah nggak berlaku buat gue di awal semester 9. Gue harus berlomba dengan waktu alias nggak bisa rileks, dengan segala keterbatasan yang ada gue nggak bisa santai-santai kayak di pantai, sehingga waktu yang kurang-lebih lima bulan itu efektif untuk menyelesaikan skripsi. Lima bulan pun masih kepotong sama libur lebaran dan beberapa libur hari besar lainnya. see? Bagaimana gue dijepit & “terintimidasi” oleh waktu?

Selama masa perjuangan menyelesaikan skripsi kadang gue merenung mengapa Allah memberikan dosen pembimbing yang begitu complicated. Memang nggak semua dosen pembimbing gue killer. Anggap aja dosen pembimbing gue dengan analogi Bu A (Antagonis) dan Bu P (Protagonis). Masalahnya adalah, Bu P sami’na wa ato’na alias ngikut sama kebijakan Bu A. jadi sebaik-baiknya Bu P pasti bakal menanyakan persetujuan dari Bu A. As you know, pas awal proposal gue harus gonta-ganti judul sebanyak tiga kali bersama Bu A. Dan parahnya, Bu A nyuruh gue balik lagi ke judul awal. Gimana gue nggak darah tinggi coba?

Kadang gue merasa beban hidup ketika skripsi itu bergitu berlipat ganda. Siklus hidup gue dalam sehari berubah total karena pengorbanan skripsi. Makan pagi dijama’ dengan makan siang. Waktu tidur yang biasanya jam 10 atau jam 11 sekarang ditarik ke jam 2 atau jam 3 pagi. Mandi jadi sehari sekali. Sosialisasi dengan sesama teman dan civitas akademika menjadi kurang. Gue merasa menjadi abnormal.

But you’re not alone, mamen. Ada puluhan bahkan ratusan temen-temen gue di kampus yang mengalami nasib serupa. Beberapa berjalan lancar dalam pengerjaan skripsinya, namun banyak juga yang mengalami hal yang jauh lebih buruk dari apa yang gue alami. Ada yang udah bab 3 tapi harus ganti judul lagi karena alasan ini-itu—dan secara otomatis merubah isi dan data, ada yang proposalnya nggak maju-maju, ada yang UP-nya sampai 9 kali, dan masalah-masalah lainnya. Entah apa masalahnya, gue nggak tahu. Melihat kondisi seperti itu, seenggaknya gue berpikir kalau bukan gue doang yang sangat “menderita” oleh Tekanan Batin Ckripsi (TBC, ok emang maksa). Masih ada orang lain yang “deritanya” lebih berat daripada gue.

Kriiiiiinnnngggg….krriiiiiiiiinnnngggg…..

Gue liat HP, sobat lama gue nelfon.

Gue: Halo, Assalamu’alaikum

Dia: Wa’alaikumsalam. Damang braaayy??

Gue: Alhamdulillah. Sawangsulna kumaha?

Dia: …. (diem sejenak)

Ok, judulnya kali ini sesi curhat bersama Aa Zakky. Well, sebenernya gue bukanlah orang yang ahli dalam memberikan nasihat psikologi atau sesi konsultasi cinta. bukan, bidang gue memang bukan itu. Yang gue rasa adalah gue punya kemampuan dan kepekaan mendengarkan orang lain bicara.

Innalillahi, sobat lama gue mendapat musibah beruntun beberapa minggu terakhir. Dimulai dari terjatuh dari motor, disusul dengan laptopnya hilang, flashdisknya juga hilang, dan kakinya kena batu—luka. Dia cerita bahwa setelah sembuh jatuh dari motor, musibah lain telah datang menanti—mirip lari estafet. Beberapa hari yang lalu laptopnya hilang dicuri orang, tepatnya jam 3 pagi, ketika dia menginap di tempat kos temannya. Dalam adegan dramatis tersebut, sobat gue ini terlibat adegan action yang sangat menegangkan dengan maling yang mencuri laptopnya. Sempat terjadi tarik-menarik laptop beberapa saat sebelum sang maling berhasil menggasak laptop sobat gue ini. karena tak berhasil mendapatkan kembali laptopnya maka terjadi aksi kejar-kejaran yang tak terelakkan. Dalam kondisi setengah sadar karena baru bangun tidur, sobat gue berusaha mengejar maling tersebut. karena hari masih gelap sobat gue nggak sadar kalo kakinya kena batu pas ngejar maling. Walhasil dia menderita luka yang cukup serius.

Lu bisa bayangin. Jam 3 subuh lu bangun denger suara tekotek-kotek dari jendela. Sambil setengah sadar lu ngeliat tangan keluar dari celah jendela yang sempit. Kalo gue mungkin bakal teriak sekenceng-kencengnya dengan dua kemungkinan. Kemungkinan pertama gue bakal teriak “HAAANNNTTUUUU…!!!”. Kemungkinan kedua ya “MAAALLIIINNNNGGG…!!!”. Tapi karena temen gue turunan Banten asli wataknya emang pemberani. Bahkan sempet tarik-tarikan laptop segala. Duh romantis banget ya malingnya. *Plak!*

Kalian tahu apa yang paling berharga dari sebuah laptop? Ya, data-datanya. Data-datanya yang penting akan sangat berharga apalagi jika data yang dimaksud berkorelasi positif dengan masa depan kita. Apakah itu? Ya, data skripsi. sobat gue lagi nguyek di bab 3 dalam penyusunan skripsi. data-data penting yang berkaitan dengan skripsi otomatis hilang seiring kepergian maling yang tidak tahu kalau sobat gue lagi skripsi—bahkan gue juga ragu apakah sang maling ngerti apa itu skripsi. dalam keadaan galau yang sangat sobat gue mencoba untuk berpikir positif dan masih bersyukur bahwa flashdisk yang berisi back up skripsi masih ada sehingga dia bisa melanjutkan usaha untuk meraih masa depan—iklan susu bendera banget ya.

Sempat tertawa beberapa saat sampai akhirnya sobat gue sadar bahwa sesuatu yang buruk terjadi kembali. Flashdisk back up skripsi ternyata raib entah dimana. Penggeledahan telah dilakukan di setiap sudut kamar namun flashdisk berisi masa depan itu tak jua terlihat. Ada apakah gerangan, Rosalinda??? JENG…JENG..!!!

Jika kalian berada dalam situasi pelik saat ini, apa yang akan kalian lakukan?

Selama kurang-lebih satu jam dia curhat masalah laptopnya yang dicuri. Sebenarnya yang paling bikin dia sakit hati dari kehilangan data skripsi adalah kenyataan bahwa draft novel psikologi pertamanya juga ikut raib. FYI, dia anak psikologi dan ingin membuat novel psikologi—mungkin yang pertama—di Indonesia (CMIIW). Tulisan-tulisannya yang pengen dia kirim ke penerbit kini sudah hilang. Gue pun memahami kondisi seperti itu. Gue juga ngebayangin gimana jadinya kalau hal serupa terjadi sama gue. Draft novel “Semester Disaster” yang mau dikirim ke penerbit tiba-tiba hilang karena laptopnya dicuri orang, misalnya. Pasti nggak akan jadi novel beneran kayak sekarang.

Di akhir-akhir percakapan gue bilang gini,”Cuy, laptop lu sekarang udah ilang dicuri orang dan kemungkinan kecil bisa ketemu. Kemaren flashdisk lu yang isinya back up dari laptop juga ilang nggak tau kemana. Back up terakhir dari karya-karya lu ya tinggal ada di memori (otak) lu. Lu mau memori lu juga hilang?”

“Nggak, lah”

“Ya makanya, stop complaining and do something! Lu masih punya back up terakhir yang ada di memori lu. Jangan pernah “mati” sebelum karya lu beres!”

Well, gue pribadi pernah ngalamin kehilangan data-data (terutama tulisan) di laptop gara-gara harddisk rusak. Rasanya? Eeerrrrrrrrr….pengen ngebom Israel hehe…intinya pengen marah tapi nggak tahu ke siapa. Pengen ngancurin toko, pengen nonjok orang, pengen ngelampiasin semuanya tapi ke siapa??? Ke Tuhan? Untuk apa kamu marah kepada objek yang tak tahu siapa yang harus kamu marahi? Perasaan emosional kadang menjadikan masalah biasa menjadi terkesan besar.

Stop complaining for everything. Tuhan tak pernah memberikan cobaan di luar kemampuan hamba-Nya. Karena ketika gue berpikir bahwa gue adalah orang yang paling menderita sedunia (entah itu karena cinta, kemiskinan, penolakan, dsb.) ternyata masih banyak orang lain yang justru lebih tidak beruntung nasibnya dari gue. Di atas langit masih ada langit, di bawah bumi masih ada bumi. Syukuri apa yang sudah dimiliki. Tugas kita sekarang bukan untuk mengeluh dan terus menggalau. Do something, gunakan potensi yang ada untuk melakukan sesuatu.

So, masih mau mengeluh? Hehe… 😀

Advertisements

One thought on “La Yukallifullahu Nafsan Illa Wus’aha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s