BUAH JADUL

“Urang ulin Ka leuweung yuk!” Kata Endin, sesaat setelah kami main gundu.

Nanaonan ka leuweung?” Tanya Oji heran.

Urang mulung kadu. Sigana loba kadu geblugan

Bari mulung tangkil sakalian nya? Ke urang tuker ka Mak Saadah

Heu’euh hayu buru lah, bisi kaburu ku batur!

Maka kami, gerombolan bocah ingusan yang sok tahu itu, pergi menuju leuweung. Leuweung dalam istilah Sunda yang berarti Hutan, atau semacam hutan kecil yang liar dan ditanami dengan berbagai macam pepohonan. Leuweung jelas menyediakan banyak sekali sumber buah. Durian, salak, kecapi, dukuh, pisitan, rambutan, pokoknya banyak jenis buah yang tumbuh di sini. Tidak jelas siapa pemilik tanah atau pemilik pepohonan yang ada di leuweung. Yang pasti banyak warga, terutama kami anak ingusan, sering berburu buah di leuweung.

Buah primadona yang sering kami incar tentu saja durian geblugan. Durian geblugan adalah durian jatuhan. Durian ini sangat enak karena ditandai dengan kejatuhannya di muka bumi ini (lebay). Menurut kami, ini adalah buah yang sangat seksi. Mengapa? Dari luar tampak menyeramkan, namun daging buah di dalamnya sungguh bikin kami mabuk kepayang. Menggelinjang tak sadarkan diri. Memang, sangat lebay dot com.

Walau demikian, durian geblugan adalah buah yang agak susah didapat. Selain kami, anak dari kampung sebelah juga mengincar durian jenis ini. Jadi kami harus berebut cepat jika tak ingin diambil oleh mereka. Kalau tak dapat durian, biasanya kami arahkan target pada yang lain. Manggis, salak, kecapi, pisitan, dukuh, dan buah-buahan lain. Mungkin anak-anak zaman sekarang sudah agak jarang denger buah-buahan tersebut.

Selain itu, kami sering melakukan kebiasaan mulung tangkil. Mulung tangkil dalam istilah Sunda bisa diartikan berburu atau mencari melinjo—bahan baku untuk membuat emping. Terkenal dengan istilah gnetum gnemon. Kebiasaan ini sangat bermanfaat terutama untuk menambah uang saku buat jajan. Melinjo yang matang, sama halnya dengan durian, biasanya akan jatuh dengan sendirinya dan warnanya berubah menjadi merah atau kuning. Jika kami bisa mengumpulkan segelas penuh tangkil, maka kami akan mendapatkan uang seratus rupiah dari nenek atau Mak Saadah. Uang seratus rupiah, zaman kami kecil, nilainya sangat besar. Bisa membeli empat buah gehu dan bala-bala sebesar bogem orang dewasa. Dan uang seratus rupiah itu adalah salah satu sumber kebahagiaan kami hehe…

___

Kenapa gue sebut buah jadul? Pertama, karena dulu buah-buahan tersebut pernah Berjaya dan menjadi bagian dalam hidup gue. Buah-buahan tersebut sering gue jumpai di setiap pergantian musim. Kedua, buah-buahan jadul udah jarang banget ditemukan karena perkembangan zaman. Misalnya nih kecapi, gue bisa gampang nemuin di Banten, itupun pas musim kecapi aja.

Beberapa minggu yang lalu gue baca majalah Intisari. Di situ ada rubrik yang mengulas tentang buah jadul Indonesia. Pas baca ulasannya sumpah gue kaget bercampur nostalgia. Gila, ini buah yang dulu sering banget gue makan sama temen-temen di kampung. Keinget lagi buah  kecapi yang dulu sering banget dimakan apalagi kalo musim hujan dating. Terus buah cempedak yang biasa kita sebut dengan nangka beurit. Beurit artinya tikus. Mungkin itulah mengapa orang sunda menganalogikannya dengan beurit karena mungkin versi mini dari nangka.

Gue Cuma mau nostalgia aja sih sebenernya nulis tentang hal ini. Siapa tahu kalian punya referensi lain yang lebih banyak, boleh dong dibagi. Setidaknya inilah buah-buahan jadul yang pernah menghiasi masa kanak-kanak gue hehe…

1. Kecapi

Coba bayangkan bola tenis. Setelah itu, ganti warnanya dengan warna kuning atau kuning tua. Nah, jadilah buah kecapi hehe…waktu gue kecil, buah ini sering banget ditemuin. Apalagi pas musim hujan, bisa dipastikan banyak banget stoknya. Jadi kalo mau buah kecapi, gue tinggal maen ke kebon nenek atau ke leuweung, pasti banyak banget  buah kecapi yang jatuh. Tinggal ambil terus dibagi-bagi ke temen dan tetangga.

Cara makan buah ini cukup unik. Karena daging buahnya nyatu sama biji, maka gue sama temen-temen sering mengunyah bijinya supaya daging buahnya dapet. Setelah dirasa daging buahnya udah abis, buang aja biji buahnya dengan cara dilepehin. Rasa kecapi yang mateng itu manis-asem-seger. Selain buahnya, kulitnya suka dijadiin manisan juga lho.

Nah kalo kalian lagi pada liburan di kampung, coba deh hunting buah jadul yang satu ini dan rasakan sensasinya :p

2. Cempedak/nangka beurit

Beberapa orang masih terjebak pada sebuah polemik, apakah cempedak termasuk nangka atau bukan? Ya, gue nggak tahu. Tapi yang pasti waktu gue kecil tinggal di Banten, orang-orang di sana sering menyebut cempedak dengan sebutan nangka beurit/tikus. mungkin bentuknya yang mini maka disebutlah nangka beurit.

Bedanya dengan nangka, cempedak bentuk buahnya cenderung bulat dan kecil. Rasa buahnya pun lebih legit dengan harum yang menusuk. Enaknya bareng-bareng sama temen-temen kalo mau makan buah ini. Soalnya gue yakin gak akan habis kalo Cuma dimakan sendiri hehehee…

3. Kupa

Kamu tahu Cikupa? Iya, sebuah lokasi dekat dengan Tangerang? Betul. Lalu apa hubungannya dengan Kupa? Tidak ada hehehee…

Makan buah kupa itu enaknya siang hari, saat udara panas. Buah ini mirip anggur namun bentuknya bulat-gempal dan padat. Gue kalau makan buah kupa semua bagiannya dimakan dari mulai kulit luar, daging buah dan bijinya. Cobain aja deh sensasinya.

4. Dukuh & Pisitan

Secara kasat mata dua jenis buah ini hampir gak bias dibedakan karena pisitan merupakan salah satu jenis dukuh. Namun perbedaan akan tampak apabila kita mulai mencicipi (memakan) kedua jenis buah ini. Dukuh bisa dikupas dan daging buahnya akan tetap utuh ketika kulitnya dikupas. Sedangkan pisitan mempunyai tekstur daging buah yang basah dan mudah rusak ketika kulitnya dikupas. Itulah mengapa cara menikmati kedua buah ini juga sangat berbeda.

Kita bisa menikmati dukuh dengan daging buah yang masih utuh. Sedangkan cara menikmati pisitan yaitu dengan digigit kulit luarnya kemudian setelah kulit luar terbuka maka harus segera dihisap daging buahnya. Inilah pengalaman unik menikmati pisitan.

5. Huni/Buni

Menurut gue, buni adalah buah yang serem dan bisa merubah kita menjadi semacam titisan nenek lampir yang gak pernah gosok gigi satu abad. Memakan buah buni itu meruntuhkan image kami terhadap gigi putih pepsodent. Bayangkan, dengan memakan beberapa butir buah buni maka gigi kita yang bersih dan putih mendadak menjadi hitam. Cocok untuk menakut-nakuti hehehee…

6. Lobi-lobi

Sebenernya sudah agak lupa bagaimana rasanya. Seingat saya dulu rasanya itu agak masam-masam segar. Biasanya dijadikan bahan campuran untuk membuat rujak, semisal bahan pengganti asam. Kadang sering juga dijadikan buah untuk rujak. kalo gue dulu sering iseng maen gundu pake buah ini hehehee….

Gimana, masih inget sama buah-buah jadul tersebut? Kalau misalnya punya referensi lain tentang buah jadul boleh deh di-share di sini 😀

 

Gambar:

Kecapi http://twicsy.com/i/88GUq

Cempedak http://www.rohkostwiki.de/wiki/Cempedak

Kupa http://putrakencanaarta.wordpress.com/page/3/

Dukuh http://atikofianti.wordpress.com/2011/10/17/khasiat-duku/

Buni http://usaha-swadaya.blogspot.com/2011/06/budidaya-buni.html

Lobi-lobi http://belajarterusbiologi.blogspot.com/2011/01/surat-buat-sahabat.html

Advertisements