Mungkin kau bisa menunda, tapi tidak kematian

Alhamdulillah, tadi pagi saya masih bisa menyaksikan pertandingan Chelsea vs. Barcelona di televisi. Pertandingan tersebut dimenangkan oleh Chelsea dengan skor 1-0. Pertandingan berjalan seperti biasa, Barcelona mendominasi permainan dengan penguasaan bola lebih dari 70%. Chelsea bermain fantastis dengan strategi bertahan “super-defensive” dengan menumpuk hampir semua pemain di daerah pertahanan. Selain itu saya akui bahwa Peter Cech bermain gemilang. Refleksnya bagus dalam mengantisipasi serangan-serangan pemain Barcelona. Salut!

Alhamdulillah, saya masih diberi kesempatan untuk bisa menulis dan menulis tulisan ini ketika beres solat subuh. Ba’da subuh, waktu favorit saya untuk belajar—walaupun sering sekali saya bangun telat. Ba’da subuh, dimana kandungan oksigen begitu melimpah, otak begitu fresh, ide mengalir dan seperti layaknya pagi—waktu dimulainya segala aktivitas.

Beberapa waktu lalu, tepatnya dua minggu kemarin, saya dikejutkan oleh sebuah kabar. Saudara saya meninggal setelah beberapa hari koma. Sempat sadarkan diri untuk beberapa saat namun ia tak dapat menolak—sebuah panggilan. Dia dipanggil oleh Yang Maha Kuasa di umurnya yang masih sangat muda. Dia dipanggil oleh Yang Maha Kuasa dengan meninggalkan seorang istri dan dua orang anak yang masih kecil. Dia dipanggil oleh Yang Maha Kuasa dengan meninggalkan kami, keluarganya.

Apa penyebab dia meninggal? Saya tak tahu dan pihak keluargapun tak tahu pasti kenapa. Tiba-tiba saja dia tak sadarkan diri dan pihak keluarga membawanya ke rumah sakit. Tak ada gejala penyakit apa-apa sebelumnya.

Beberapa hari kemudian saya dapat kabar sangat mengejutkan. Sangat! Teman saya, Budi Andana Marahimin, tiba-tiba tak sadarkan diri. Diduga Budi mengalami leukimia stadium 4. Setelah beberapa lama tak sadarkan diri, Budi akhirnya tak bisa menolak sebuah ‘panggilan’ untuk kembali. Dia akhirnya pulang kepada Yang Maha Kuasa dengan meninggalkan kami, teman-temannya.

Image

Saya pribadi mengenal Budi ketika acara FIM 9 tahun 2010 di Cibubur, Jakarta. Dia jago fotografi dan nampaknya sangat tahu seluk-beluk kamera. Budi orang yang hangat dan friendly. Tahun kemarin saya sempat menjadi partner bersama Budi sebagai fasilitator di pelatihan FIM 10. Senang menjadi partner Budi karena saya jadi tahu bahwa dia salah satu orang yang mendahulukan musyawarah dan kerjasama sebelum sebuah keputusan diambil.

Hari ini, dalam jangka waktu dua minggu, saya merasa kehilangan. Saya tak akan pernah bertemu lagi dengan saudara saya jika saya bermain ke Tangerang. Dia sudah pergi untuk selama-lamanya. Acara FIM selanjutnya saya tak akan bisa lagi berjumpa dengan Budi dan gaya khasnya—berjalan sambil mengalungkan kamera DSLR di leher, Budi dengan presentasi karya-karya fotografinya dan Budi dengan guyonan khasnya—Sedap…sedap…!

Kullu nafsin daiqotul maut. Setiap manusia pasti akan mengalami kematian. Hanya masalah waktu, kita tak bisa memastikan dengan pasti kapan kita meninggal dan dengan cara bagaimana. Kematian, setahu saya, sangat misterius. Dia bisa datang pada siapapun dan dalam kondisi apapun. Kamu mungkin punya kondisi kesehatan bagus, catatan medis yang sehat dan kondisi tubuh yang bugar. Tapi itu bukan jaminan kematian tak akan menghampiri. Tak ada jaminan yang pasti untuk menghindari kematian.

Dalam kematian—menurut saya, bukan masalah cepat atau lamanya seseorang ‘dipanggil’ oleh Yang Maha Kuasa. (Mungkin) kita semua sepakat bahwa ‘bekal’ apa yang kita bawa ketika menghadap Yang Maha Kuasa. Apakah bekal tersebut dipenuhi oleh hal-hal yang membahagiakan manusia ketika kita hidup di dunia sehingga Tuhan ‘tersenyum’ dan mengganjar kita dengan surga? Atau justru sebaliknya, bekal yang kita bawa sangatlah buruk sehingga Tuhan murka dan mengganjar dengan neraka?

Maka bersyukurlah bagi kita yang masih diberi kesempatan. Kita masih bisa bertemu satu sama lain, diberi kesehatan dan kekuatan, bisa bertemu orang tua dan mengobrol tentang tugas-tugas kuliah atau masalah pekerjaan sambil  ngeteh sore, masih bisa merasakan kegagalan karena tidak diterima di institusi yang diinginkan, misalnya. Atau baru saja dapat kabar gembira karena lulus UN dengan nilai mencengangkan. Fabiayyi ala irobbikuma tukadziban? Maka nikmat Tuhan yang mana lagi yang kamu dustakan?

Mungkin kita bisa menunda kebaikan-kebaikan, namun tidak kematian. Mungkin kita bisa menunda keburukan-keburukan, namun tidak kematian.

(Tulisan ini untuk mengenang A Ade–saudara dari keluarga bapak–dan sobat saya, Budi Andana Marahimin. Selamat jalan)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s