CALCIOPOLI RASA INDONESIA

Selama ini aku berpikir sepak bola adalah masalah yang sederhana. sangat sederhana. Dua kesebelasan bertanding di atas lapangan hijau dan mereka punya gawang—tentu saja dari jaring—yang harus dibobol oleh tim lawan. Siapa yang memiliki selisih gol lebih banyak dalam membobol gawang lawan maka tim tersebutlah pemenangnya. Simpel bukan?

Atau jika hal tersebut terlalu teknis, kamu tak harus melalui pemahaman yang mendalam mengenai tata cara bermain bola. Katalis yang biasanya efektif bagi siapapun untuk mengenal sepak bola adalah menjadi semacam fans klub atau fans dari pemain tertentu. Mungkin kamu bisa coba-coba menjadi fans dari Manchester United, peraih gelar liga Inggris paling banyak dibanding klub-klub seantero Britania Raya. Jangan lupa Barcelona yang entah mengapa sudah terlalu kuat merajai Eropa untuk saat ini. Cewek-cewek yang anti sepak bola, kamu mungkin tak akan anti dengan kegantengan Cristiano Ronaldo dan David Beckham. Messi juga bagus secara skill. Atau bagi kalian yang mendambakan memiliki suami good father semacam Steven Gerrard, maka kamu bisa mencoba-coba untuk menjadi fans mereka. Seperti yang aku bilang, tak harus mengerti teknis sepakbola yang baik dan benar. Cukup menjadi fans.

Sempat ada sebuah pertanyaan besar mengenai sepak bola yang harus dijawab: Bagaimana mungkin 22 orang memperebutkan satu bola dan mereka rela jatuh-bangun bahkan cedera ? Gila bukan?

Ya, sepak bola memang gila. Kau tak akan pernah bertanya seperti itu jika kau pernah jatuh cinta—setidaknya terhadap seorang perempuan.

Well, semakin lama jadi pengamat pasif tentang bola, aku menemukan hal yang selama ini tak kuyakini. Bahwa sepak bola itu rumit. Rumit sekali. Tak sesederhana yang kukira. Banyak orang yang menggantungkan hidup dari sini. Pemain, manjemen klub, wasit, tukang parkir di stadion bahkan bandar judi terkutuk sekalipun. Sepak bola yang kita lihat mengasyikkan di televisi ternyata memiliki struktur dan sistem rantai pasokan yang rumit. Terutama jika sudah menyangkut mafia bola dan bandar judi.

Aku tercengang melihat Mata Najwa. Di situ ada Mr. X yang aku sendiri tak tahu siapa. Ada petinggi PSSI, perwakilan tim transisi, mantan pelatih dan mantan pemain dari klub yang pernah berlaga di Liga Indonesia. Dari sisi pelatih dan pemain—menurut kesaksian mereka—yang pernah mengalami praktek mafia sepakbola, kondisi sepakbola di negeri ini sudah amburadul karena banyaknya mafia sepak bola dan pengaturan skor. Sepak bola negeri ini tak akan pernah maju karena terlalu banyak kepentingan dari bandar judi sedangkan sikap petinggi PSSI hanya diam saja seolah-olah tidak tahu. Kalaupun mereka tahu mereka akan melimpahkan kasus ini ke divisi anu, departemen anu atau komite anu. Terlalu banyak anu.

Mafia bola dan kasus pengaturan skor demi kepentingan bandar judi ternyata sudah menjadi rahasia umum di kalangan manajemen klub, pelatih dan para pemain. Contoh sederhana, sebelum pertandingan berlangsung antara tim A melawan tim B, diatur sebuah pertemuan di sebuah rumah makan. Seorang perantara dari pihak mafia bola/bandar judi menemui manajemen, pelatih dan pemain. Mereka dijanjikan uang dengan nilai lumayan asalkan mau mengalah terhadap tim lawan. Gila bukan?

Bersambung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s