About zakkyramadhany

Menulis, Penulis, Ditulis. Punya 4 cita-cita: Penulis, Pengajar, Ekonom, Menteri Keuangan.

HATAM UMI

Berapa banyak dari kita–kaum Adam–yang sering melakukan ‘ritual’ tidur ketika khutbah jumat berlangsung? Ya, mengakulah kalian laki-laki. Siapa di sini yang mencuri kesempatan untuk tidur di sela-sela khutbah jumat?
Sebenarny aku pun demikian…
Tadi ketika khutbah jumat akan dimulai, sudah kuniatkan 80% untuk tidur. Bukan karena malas atau tidak taat tapi memang semalam aku tidur agak larut. Untuk menghindari rasa pusing aku brrniat untuk tidur di sela-sela khutbah jumat. Dan mungkin ini menjadi sebuah justifikasi yang kuat: Bahkan tidur di saat bulan ramadan bernilai pahala.
Assalamuakaikum warohmatullihahi wa barakatuh…
Khotib sudah naik ke mimbar. Khutbah akan segera dimulai.
Aku sudah mulai menudukan kepala dan menutup mata. Lamat-lamat suara adzan berkumandang. Kepalaku sudah berat, rasanya ingin cepat tdur saja.
“Tahun 1978 Saya mengikuti musabaqoh hifdzul quran. Saat itu usia saya masih kanak-kanak. Alhamdulillah saya berhasil melaju sampai ke tingkat provinsi DKI Jakarta.”
Mata semakin berat…
“Ketika pengumuman pemenang, juri kebingungan untuk menentukan siapa yang berhak menyandang juara pertama sampai juara tiga. Mengapa? Karena ketiga orang tersebut memiliki daya hafal yang sama, irama yang sama, makhorijul hurufnya sama. Semuanya sama. Identik.”
Mataku mulai tertutup. Sebentar lagi akan masuk ke alam bawah sadar.
“Karena kebingungan, sang juri memanggil orang tua dari ketiga orang anak tersebut. Ya dialah Haji Haji Hasan, orang tua saya sekaligus orang tua dari 2 kakak saya yang juga sedang mengikuti lomba yang sama. Perwakilan keluarga kami meraih juara di lomba ini. Dengan tersenyum ayah saya bilang juara 1 dan 2 diraih oleh kakak saya dan saya mendapat juara 3.”
Wowww…subhanallah..

Advertisements

CALCIOPOLI RASA INDONESIA

Selama ini aku berpikir sepak bola adalah masalah yang sederhana. sangat sederhana. Dua kesebelasan bertanding di atas lapangan hijau dan mereka punya gawang—tentu saja dari jaring—yang harus dibobol oleh tim lawan. Siapa yang memiliki selisih gol lebih banyak dalam membobol gawang lawan maka tim tersebutlah pemenangnya. Simpel bukan?

Atau jika hal tersebut terlalu teknis, kamu tak harus melalui pemahaman yang mendalam mengenai tata cara bermain bola. Katalis yang biasanya efektif bagi siapapun untuk mengenal sepak bola adalah menjadi semacam fans klub atau fans dari pemain tertentu. Mungkin kamu bisa coba-coba menjadi fans dari Manchester United, peraih gelar liga Inggris paling banyak dibanding klub-klub seantero Britania Raya. Jangan lupa Barcelona yang entah mengapa sudah terlalu kuat merajai Eropa untuk saat ini. Cewek-cewek yang anti sepak bola, kamu mungkin tak akan anti dengan kegantengan Cristiano Ronaldo dan David Beckham. Messi juga bagus secara skill. Atau bagi kalian yang mendambakan memiliki suami good father semacam Steven Gerrard, maka kamu bisa mencoba-coba untuk menjadi fans mereka. Seperti yang aku bilang, tak harus mengerti teknis sepakbola yang baik dan benar. Cukup menjadi fans.

Sempat ada sebuah pertanyaan besar mengenai sepak bola yang harus dijawab: Bagaimana mungkin 22 orang memperebutkan satu bola dan mereka rela jatuh-bangun bahkan cedera ? Gila bukan?

Ya, sepak bola memang gila. Kau tak akan pernah bertanya seperti itu jika kau pernah jatuh cinta—setidaknya terhadap seorang perempuan.

Well, semakin lama jadi pengamat pasif tentang bola, aku menemukan hal yang selama ini tak kuyakini. Bahwa sepak bola itu rumit. Rumit sekali. Tak sesederhana yang kukira. Banyak orang yang menggantungkan hidup dari sini. Pemain, manjemen klub, wasit, tukang parkir di stadion bahkan bandar judi terkutuk sekalipun. Sepak bola yang kita lihat mengasyikkan di televisi ternyata memiliki struktur dan sistem rantai pasokan yang rumit. Terutama jika sudah menyangkut mafia bola dan bandar judi.

Aku tercengang melihat Mata Najwa. Di situ ada Mr. X yang aku sendiri tak tahu siapa. Ada petinggi PSSI, perwakilan tim transisi, mantan pelatih dan mantan pemain dari klub yang pernah berlaga di Liga Indonesia. Dari sisi pelatih dan pemain—menurut kesaksian mereka—yang pernah mengalami praktek mafia sepakbola, kondisi sepakbola di negeri ini sudah amburadul karena banyaknya mafia sepak bola dan pengaturan skor. Sepak bola negeri ini tak akan pernah maju karena terlalu banyak kepentingan dari bandar judi sedangkan sikap petinggi PSSI hanya diam saja seolah-olah tidak tahu. Kalaupun mereka tahu mereka akan melimpahkan kasus ini ke divisi anu, departemen anu atau komite anu. Terlalu banyak anu.

Mafia bola dan kasus pengaturan skor demi kepentingan bandar judi ternyata sudah menjadi rahasia umum di kalangan manajemen klub, pelatih dan para pemain. Contoh sederhana, sebelum pertandingan berlangsung antara tim A melawan tim B, diatur sebuah pertemuan di sebuah rumah makan. Seorang perantara dari pihak mafia bola/bandar judi menemui manajemen, pelatih dan pemain. Mereka dijanjikan uang dengan nilai lumayan asalkan mau mengalah terhadap tim lawan. Gila bukan?

Bersambung…

Mungkin kau bisa menunda, tapi tidak kematian

Alhamdulillah, tadi pagi saya masih bisa menyaksikan pertandingan Chelsea vs. Barcelona di televisi. Pertandingan tersebut dimenangkan oleh Chelsea dengan skor 1-0. Pertandingan berjalan seperti biasa, Barcelona mendominasi permainan dengan penguasaan bola lebih dari 70%. Chelsea bermain fantastis dengan strategi bertahan “super-defensive” dengan menumpuk hampir semua pemain di daerah pertahanan. Selain itu saya akui bahwa Peter Cech bermain gemilang. Refleksnya bagus dalam mengantisipasi serangan-serangan pemain Barcelona. Salut!

Alhamdulillah, saya masih diberi kesempatan untuk bisa menulis dan menulis tulisan ini ketika beres solat subuh. Ba’da subuh, waktu favorit saya untuk belajar—walaupun sering sekali saya bangun telat. Ba’da subuh, dimana kandungan oksigen begitu melimpah, otak begitu fresh, ide mengalir dan seperti layaknya pagi—waktu dimulainya segala aktivitas.

Beberapa waktu lalu, tepatnya dua minggu kemarin, saya dikejutkan oleh sebuah kabar. Saudara saya meninggal setelah beberapa hari koma. Sempat sadarkan diri untuk beberapa saat namun ia tak dapat menolak—sebuah panggilan. Dia dipanggil oleh Yang Maha Kuasa di umurnya yang masih sangat muda. Dia dipanggil oleh Yang Maha Kuasa dengan meninggalkan seorang istri dan dua orang anak yang masih kecil. Dia dipanggil oleh Yang Maha Kuasa dengan meninggalkan kami, keluarganya.

Apa penyebab dia meninggal? Saya tak tahu dan pihak keluargapun tak tahu pasti kenapa. Tiba-tiba saja dia tak sadarkan diri dan pihak keluarga membawanya ke rumah sakit. Tak ada gejala penyakit apa-apa sebelumnya.

Beberapa hari kemudian saya dapat kabar sangat mengejutkan. Sangat! Teman saya, Budi Andana Marahimin, tiba-tiba tak sadarkan diri. Diduga Budi mengalami leukimia stadium 4. Setelah beberapa lama tak sadarkan diri, Budi akhirnya tak bisa menolak sebuah ‘panggilan’ untuk kembali. Dia akhirnya pulang kepada Yang Maha Kuasa dengan meninggalkan kami, teman-temannya.

Image

Saya pribadi mengenal Budi ketika acara FIM 9 tahun 2010 di Cibubur, Jakarta. Dia jago fotografi dan nampaknya sangat tahu seluk-beluk kamera. Budi orang yang hangat dan friendly. Tahun kemarin saya sempat menjadi partner bersama Budi sebagai fasilitator di pelatihan FIM 10. Senang menjadi partner Budi karena saya jadi tahu bahwa dia salah satu orang yang mendahulukan musyawarah dan kerjasama sebelum sebuah keputusan diambil.

Hari ini, dalam jangka waktu dua minggu, saya merasa kehilangan. Saya tak akan pernah bertemu lagi dengan saudara saya jika saya bermain ke Tangerang. Dia sudah pergi untuk selama-lamanya. Acara FIM selanjutnya saya tak akan bisa lagi berjumpa dengan Budi dan gaya khasnya—berjalan sambil mengalungkan kamera DSLR di leher, Budi dengan presentasi karya-karya fotografinya dan Budi dengan guyonan khasnya—Sedap…sedap…!

Kullu nafsin daiqotul maut. Setiap manusia pasti akan mengalami kematian. Hanya masalah waktu, kita tak bisa memastikan dengan pasti kapan kita meninggal dan dengan cara bagaimana. Kematian, setahu saya, sangat misterius. Dia bisa datang pada siapapun dan dalam kondisi apapun. Kamu mungkin punya kondisi kesehatan bagus, catatan medis yang sehat dan kondisi tubuh yang bugar. Tapi itu bukan jaminan kematian tak akan menghampiri. Tak ada jaminan yang pasti untuk menghindari kematian.

Dalam kematian—menurut saya, bukan masalah cepat atau lamanya seseorang ‘dipanggil’ oleh Yang Maha Kuasa. (Mungkin) kita semua sepakat bahwa ‘bekal’ apa yang kita bawa ketika menghadap Yang Maha Kuasa. Apakah bekal tersebut dipenuhi oleh hal-hal yang membahagiakan manusia ketika kita hidup di dunia sehingga Tuhan ‘tersenyum’ dan mengganjar kita dengan surga? Atau justru sebaliknya, bekal yang kita bawa sangatlah buruk sehingga Tuhan murka dan mengganjar dengan neraka?

Maka bersyukurlah bagi kita yang masih diberi kesempatan. Kita masih bisa bertemu satu sama lain, diberi kesehatan dan kekuatan, bisa bertemu orang tua dan mengobrol tentang tugas-tugas kuliah atau masalah pekerjaan sambil  ngeteh sore, masih bisa merasakan kegagalan karena tidak diterima di institusi yang diinginkan, misalnya. Atau baru saja dapat kabar gembira karena lulus UN dengan nilai mencengangkan. Fabiayyi ala irobbikuma tukadziban? Maka nikmat Tuhan yang mana lagi yang kamu dustakan?

Mungkin kita bisa menunda kebaikan-kebaikan, namun tidak kematian. Mungkin kita bisa menunda keburukan-keburukan, namun tidak kematian.

(Tulisan ini untuk mengenang A Ade–saudara dari keluarga bapak–dan sobat saya, Budi Andana Marahimin. Selamat jalan)

Valentine: Sebuah Penantian

14 Februari 2012

Aku begitu bersemangat pergi menuju kantor hari ini. Tanpa motor, kulangkahkan kaki menyusuri komplek perumahan untuk mencari kendaraan umum. Kawan, ternyata berjalan kaki menuju tempat kerja sangat menyenangkan dan menyehatkan. Kurasakan betul otot-otot kakiku mengencang, tanganku aktif bergerak, peluh di dahi menandakan keringat yang sehat, dan tentu saja lemak di bagian perut ikut terbakar walau sebenarnya aku tak punya masalah dengan berat badan ataupun turunannya.

Cuaca kali ini cerah, seperti biasa Bandung di pagi hari. Angkot yang kunaiki sangat rempong—kaca yang terbuka, mesin yang sudah uzur, dan sopir yang tak tahu sopan santun karena merokok sambil menyetir. Beberapa penumpang naik-turun. Mereka datang dan pergi seolah tak melihatku, seorang yang akan pergi kerja dengan penuh semangat dan optimisme, seorang yang berdedikasi dalam bekerja walau sering kena marah bos, seorang yang sedang dalam masa penantian.

Kau tahu, dua bulan yang lalu aku kena marah bos karena alasan yang tak masuk di akal: responku dalam mengendalikan komputer terlalu cepat dan kemampuanku dalam masalah klerikal sangatlah payah. Dalam pengendalian kekuatan komputer, kursor yang kuarahkan sangat cepat apalagi ketika harus melakukan presentasi di hadapan orang-orang Pertamina. Kecepatannya melampaui umur bosku—sama dengan kecepatan kuantum— yang berusia lima puluhan tahun. Ironi sebaliknya, bahwa aku tak terlalu teliti dalam urusan-urusan yang menuntut ketelitian adalah benar adanya. Bahwa Aku tak terlalu fokus pada detil. Mungkin Aku lebih menyukai ketidakmungkinan-ketidakmungkinan daripada kepastian. Mungkin aku lebih menyukai mimpi daripada kenyataan. Mungkin. Itulah mengapa aku suka orang-orang yang punya “mimpi”, mereka adalah orang-orang yang berani melampaui “kenyataan”.

Baiklah, sepertinya paragraf di atas khusus menunjukkan betapa dua kemampuan yang dimiliki olehku sangat bertolak belakang. Tapi tak usah dipikirkan kawan. Pernahkah kau tahu sebuah ungkapan yang mengatakan “kelemahan adalah kekuatan yang yang belum digunakan secara terarah”.

Penantian. Kau tahu rasanya menanti? Kata yang sedikit berbeda dari menunggu—atau bahkan mungkin keduanya memang berbeda. Penantian itu berhubungan dengan harapan, seorang yang mengharap menunggu orang lain yang memberi harapan. Penantian itu berhubungan dengan perasaan. Penantian itu berhubungan dengan sesuatu yang lama—dengan sedikit dramatis—dan berakhir dengan akhir yang manis.

Mungkin. Mungkin juga tidak.

Aku tak menantikan siapa-siapa bulan februari ini. Tak harus memberi coklat atau membeli mawar. Kalaupun harus, untuk (si)apa? Aku hanya sedang menanti sesuatu yang sudah kutunggu sekian lama—mungkin kamu juga. Penantian dua bulan ini belum juga berakhir. Kapan kau datang padaku, salary?

Gambar: http://www.jonice.web.id

YOUNG LEADERS TALK

“Pejuang itu adalah orang-orang yang berani berkorban, termasuk mengorbankan malam minggunya”

Setidaknya begitu menurut saya. Itu murni quote dadakan, diinspirasi dari event Young Leaders Talk (YLT) yang dilaksanakan pada 14-15 Januari 2012 di Bandung. Event ini merupakan sarana silaturahim bagi Fimers yang datang dari berbagai daerah. Sebagai pelaksana, dalam hal ini FIM 11, panitia saya rasa cukup sukses mengemas acara yang berlangsung singkat. Walaupun tak bisa dipungkiri masih ada beberapa hal yang perlu dikritisi menyangkut agenda acara yang molor.

Oray Tapa. Kalian tahu apa itu artinya? Jika kita telaah dua kata tersebut dapat kita artikan Oray=Ular dan Tapa=Bersemedi (Bertapa). Jika digabungkan akan menjadi Ular Bersemedi. Sabtu ini, menjelang malam minggu, saya mendapat undangan untuk menghadiri Young Leaders Talk (YLT). Acara ini akan dilaksanakan di Perbukitan Oray Tapa, sebuah lokasi yang saya sendiri pun (sebagai orang Bandung) baru mendengarnya. Saya pikir dahulu kala tempat ini adalah tempat bersemedinya ular-ular terhebat di Tatar Sunda. Mereka akan turun gunung jika selesai bertapa dan naik kembali jika mereka hendak kontemplasi. Persis kami-kami ini, para peserta YLT, butuh sarana untuk kontemplasi dari hiruk-pikuk suasana perkotaan.

Ba’da ashar saya berangkat bersama beberapa teman. Mengendarai motor sambil menikmati suasana Bandung di sore hari. Malam ini malam minggu. MALAM MINGGU! *Memangnya kenapa?*

Karena kondisi jalanan yang agak padat, motor saya ketinggalan rombongan. Namun Alhamdulillah di ¾ perjalanan rombongan kembali bersatu dan membentuk formasi kunang-kunang (dramatis sedikit boleh yaa). Di titik pertemuan ini pula kami semua menghadapi tantangan. Kondisi jalanan yang tidak mulus karena didominasi oleh batu dan sebagian oleh lumpur. Daripada mengeluh karena kondisi jalanan yang tidak bersahabat, kami mempunyai inisiatif lain. Apa itu? Foto-foto. Walaupun wajah kami tidak semua camera face, setidaknya kami sadar (akan keberadaan) kamera hehehee…

Sekitar jam 5 sore sebagian besar peserta sudah tiba di tujuan. Udara segar dan semilir angin dingin menyambut bagai ucapan selamat datang. Angin seolah-olah berkata, “Selamat datang di Oray Tapa. Nikmati pengalaman istimewa bersama kami”.

Saya yakin orang-orang luar kota akan sangat menikmati suasana Oray Tapa. Suhu dinginnya mengingatkan saya akan kondisi Bandung zaman dulu, sekitar tahun 90-an. Kalo boleh dibilang seperti itulah suhu Bandung waktu itu terutama di pagi dan malam hari. Orang Jakarta dan sekitarnya, bukankah kalian tak pernah merasakan suhu seprti itu di ibukota? Orang Jogja, bukankah untuk menikmati udara seperti itu kalian harus naik gunung Merapi dulu? Hehe…just kidding.

Secara pribadi saya sebenarnya (pada awalnya) tak tahu agenda YLT ini seperti apa. Saya pikir akan meniru gaya-gaya konferensi yang biasa diadakan oleh mahasiswa. Namun, persepsi saya berubah ketika malam tiba. Semua warga tertidur. Werewolf yang tersisa bangun hehee… OK, ini tulisan ringan. Jangan terlalu serius 😀

Menurut sudut pandang saya sebagai peserta, YLT kali ini (mungkin) konsepnya sama dengan TEDX. Pembicara yang hadir masih dari anak FIM dan (diusahakan) telah melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya. Inti dari YLT ini (sekali lagi menurut saya) lebih ke sharing & spread the idea. Bagaimana efek dari berbagi ide bisa begitu kuatnya sehingga ide itu menyebar dan menginspirasi kita semua untuk melakukan perubahan, melakukan sesuatu. Seperti Butterfly Effect, kepakan kupu-kupu di Meksiko akan menimbulkan angin topan di belahan Amerika. Begitu kira-kira analoginya.

Walaupun materi dari pembicara terkesan cukup berbobot, saya pribadi tak merasa sedang menonton sebuah pemaparan ilmiah. Penyampaian gaya khas anak muda menjadi kuncinya. Bahwa materi yang terkesan “berat” sekalipun jika disampaikan dengan cara dan gaya yang sederhana akan mudah dicerna.

Terlepas dari berbagai macam kekurangan dari segi teknis acara, YLT adalah forum seru yang (kalau bisa) dijadikan agenda rutin. Tidak perlu proposal ini-itu karena Fimers akan secara sukarela datang dan membantu dari sisi tenaga, pikiran dan (mungkin) dana hehehee…

Terima kasih.

Kapan lagi nih ada liqo YLT lagi ya akhi? *Saya bukan kader lho :D*

BUAH JADUL

“Urang ulin Ka leuweung yuk!” Kata Endin, sesaat setelah kami main gundu.

Nanaonan ka leuweung?” Tanya Oji heran.

Urang mulung kadu. Sigana loba kadu geblugan

Bari mulung tangkil sakalian nya? Ke urang tuker ka Mak Saadah

Heu’euh hayu buru lah, bisi kaburu ku batur!

Maka kami, gerombolan bocah ingusan yang sok tahu itu, pergi menuju leuweung. Leuweung dalam istilah Sunda yang berarti Hutan, atau semacam hutan kecil yang liar dan ditanami dengan berbagai macam pepohonan. Leuweung jelas menyediakan banyak sekali sumber buah. Durian, salak, kecapi, dukuh, pisitan, rambutan, pokoknya banyak jenis buah yang tumbuh di sini. Tidak jelas siapa pemilik tanah atau pemilik pepohonan yang ada di leuweung. Yang pasti banyak warga, terutama kami anak ingusan, sering berburu buah di leuweung.

Buah primadona yang sering kami incar tentu saja durian geblugan. Durian geblugan adalah durian jatuhan. Durian ini sangat enak karena ditandai dengan kejatuhannya di muka bumi ini (lebay). Menurut kami, ini adalah buah yang sangat seksi. Mengapa? Dari luar tampak menyeramkan, namun daging buah di dalamnya sungguh bikin kami mabuk kepayang. Menggelinjang tak sadarkan diri. Memang, sangat lebay dot com.

Walau demikian, durian geblugan adalah buah yang agak susah didapat. Selain kami, anak dari kampung sebelah juga mengincar durian jenis ini. Jadi kami harus berebut cepat jika tak ingin diambil oleh mereka. Kalau tak dapat durian, biasanya kami arahkan target pada yang lain. Manggis, salak, kecapi, pisitan, dukuh, dan buah-buahan lain. Mungkin anak-anak zaman sekarang sudah agak jarang denger buah-buahan tersebut.

Selain itu, kami sering melakukan kebiasaan mulung tangkil. Mulung tangkil dalam istilah Sunda bisa diartikan berburu atau mencari melinjo—bahan baku untuk membuat emping. Terkenal dengan istilah gnetum gnemon. Kebiasaan ini sangat bermanfaat terutama untuk menambah uang saku buat jajan. Melinjo yang matang, sama halnya dengan durian, biasanya akan jatuh dengan sendirinya dan warnanya berubah menjadi merah atau kuning. Jika kami bisa mengumpulkan segelas penuh tangkil, maka kami akan mendapatkan uang seratus rupiah dari nenek atau Mak Saadah. Uang seratus rupiah, zaman kami kecil, nilainya sangat besar. Bisa membeli empat buah gehu dan bala-bala sebesar bogem orang dewasa. Dan uang seratus rupiah itu adalah salah satu sumber kebahagiaan kami hehe…

___

Kenapa gue sebut buah jadul? Pertama, karena dulu buah-buahan tersebut pernah Berjaya dan menjadi bagian dalam hidup gue. Buah-buahan tersebut sering gue jumpai di setiap pergantian musim. Kedua, buah-buahan jadul udah jarang banget ditemukan karena perkembangan zaman. Misalnya nih kecapi, gue bisa gampang nemuin di Banten, itupun pas musim kecapi aja.

Beberapa minggu yang lalu gue baca majalah Intisari. Di situ ada rubrik yang mengulas tentang buah jadul Indonesia. Pas baca ulasannya sumpah gue kaget bercampur nostalgia. Gila, ini buah yang dulu sering banget gue makan sama temen-temen di kampung. Keinget lagi buah  kecapi yang dulu sering banget dimakan apalagi kalo musim hujan dating. Terus buah cempedak yang biasa kita sebut dengan nangka beurit. Beurit artinya tikus. Mungkin itulah mengapa orang sunda menganalogikannya dengan beurit karena mungkin versi mini dari nangka.

Gue Cuma mau nostalgia aja sih sebenernya nulis tentang hal ini. Siapa tahu kalian punya referensi lain yang lebih banyak, boleh dong dibagi. Setidaknya inilah buah-buahan jadul yang pernah menghiasi masa kanak-kanak gue hehe…

1. Kecapi

Coba bayangkan bola tenis. Setelah itu, ganti warnanya dengan warna kuning atau kuning tua. Nah, jadilah buah kecapi hehe…waktu gue kecil, buah ini sering banget ditemuin. Apalagi pas musim hujan, bisa dipastikan banyak banget stoknya. Jadi kalo mau buah kecapi, gue tinggal maen ke kebon nenek atau ke leuweung, pasti banyak banget  buah kecapi yang jatuh. Tinggal ambil terus dibagi-bagi ke temen dan tetangga.

Cara makan buah ini cukup unik. Karena daging buahnya nyatu sama biji, maka gue sama temen-temen sering mengunyah bijinya supaya daging buahnya dapet. Setelah dirasa daging buahnya udah abis, buang aja biji buahnya dengan cara dilepehin. Rasa kecapi yang mateng itu manis-asem-seger. Selain buahnya, kulitnya suka dijadiin manisan juga lho.

Nah kalo kalian lagi pada liburan di kampung, coba deh hunting buah jadul yang satu ini dan rasakan sensasinya :p

2. Cempedak/nangka beurit

Beberapa orang masih terjebak pada sebuah polemik, apakah cempedak termasuk nangka atau bukan? Ya, gue nggak tahu. Tapi yang pasti waktu gue kecil tinggal di Banten, orang-orang di sana sering menyebut cempedak dengan sebutan nangka beurit/tikus. mungkin bentuknya yang mini maka disebutlah nangka beurit.

Bedanya dengan nangka, cempedak bentuk buahnya cenderung bulat dan kecil. Rasa buahnya pun lebih legit dengan harum yang menusuk. Enaknya bareng-bareng sama temen-temen kalo mau makan buah ini. Soalnya gue yakin gak akan habis kalo Cuma dimakan sendiri hehehee…

3. Kupa

Kamu tahu Cikupa? Iya, sebuah lokasi dekat dengan Tangerang? Betul. Lalu apa hubungannya dengan Kupa? Tidak ada hehehee…

Makan buah kupa itu enaknya siang hari, saat udara panas. Buah ini mirip anggur namun bentuknya bulat-gempal dan padat. Gue kalau makan buah kupa semua bagiannya dimakan dari mulai kulit luar, daging buah dan bijinya. Cobain aja deh sensasinya.

4. Dukuh & Pisitan

Secara kasat mata dua jenis buah ini hampir gak bias dibedakan karena pisitan merupakan salah satu jenis dukuh. Namun perbedaan akan tampak apabila kita mulai mencicipi (memakan) kedua jenis buah ini. Dukuh bisa dikupas dan daging buahnya akan tetap utuh ketika kulitnya dikupas. Sedangkan pisitan mempunyai tekstur daging buah yang basah dan mudah rusak ketika kulitnya dikupas. Itulah mengapa cara menikmati kedua buah ini juga sangat berbeda.

Kita bisa menikmati dukuh dengan daging buah yang masih utuh. Sedangkan cara menikmati pisitan yaitu dengan digigit kulit luarnya kemudian setelah kulit luar terbuka maka harus segera dihisap daging buahnya. Inilah pengalaman unik menikmati pisitan.

5. Huni/Buni

Menurut gue, buni adalah buah yang serem dan bisa merubah kita menjadi semacam titisan nenek lampir yang gak pernah gosok gigi satu abad. Memakan buah buni itu meruntuhkan image kami terhadap gigi putih pepsodent. Bayangkan, dengan memakan beberapa butir buah buni maka gigi kita yang bersih dan putih mendadak menjadi hitam. Cocok untuk menakut-nakuti hehehee…

6. Lobi-lobi

Sebenernya sudah agak lupa bagaimana rasanya. Seingat saya dulu rasanya itu agak masam-masam segar. Biasanya dijadikan bahan campuran untuk membuat rujak, semisal bahan pengganti asam. Kadang sering juga dijadikan buah untuk rujak. kalo gue dulu sering iseng maen gundu pake buah ini hehehee….

Gimana, masih inget sama buah-buah jadul tersebut? Kalau misalnya punya referensi lain tentang buah jadul boleh deh di-share di sini 😀

 

Gambar:

Kecapi http://twicsy.com/i/88GUq

Cempedak http://www.rohkostwiki.de/wiki/Cempedak

Kupa http://putrakencanaarta.wordpress.com/page/3/

Dukuh http://atikofianti.wordpress.com/2011/10/17/khasiat-duku/

Buni http://usaha-swadaya.blogspot.com/2011/06/budidaya-buni.html

Lobi-lobi http://belajarterusbiologi.blogspot.com/2011/01/surat-buat-sahabat.html

“My Semester Disaster” QUIZ

Hooolllaaaaa…. 😀

Bentar lagi lebaran nih, udah pada beli baju lebaran blom? :p

Di bulan ramadan yang penuh berkah ini gue mau ngadain QUIZ berhadiah baju lebaran berupa T-shirt atau Polo shirt keren dari plainteeclothes. Gimana cara ikutan QUIZ-nya? Gampang banget!

1. Siapin kamera (hp, camdi, dslr, etc.), novel “Semester Disaster” (mau beli ato pinjem terserah hehe…) & tentunya wajah ganteng/ cantikmu :p

2. Follow gue @inzakky & @Bukune

3. Foto momen bersejarahmu bersama novel “Semester Disaster”. Bisa momen unyu, momen gokil, momen sedih, momen bahagia, momen pas cupu2nya jadi siswa/mahasiswa baru, momen berwibawa bersama guru/dosen, momen begadang sampe malem, momen hectic-nya ngerjain tugas, momen ngejar2 dosen pembimbing skripsi, dll. Bebas, pokoknya se-kreatif dan se-gokil mungkin yang kamu bisa 😀

Sebagai ilustrasi momen tidak unyu :p

4. Upload fotomu via twitter atau FB. Kalo kamu upload via twitter mention gue @inzakky & @Bukune sertakan hashtag #SemesterDisaster. Kalo kamu upload via FB usahakan kamu sudah jadi friend & tag fotonya ke akun gue –>> Zakky Ramadhany.

5. QUIZ ditutup hari minggu (21/8) jam 12 siang. Pengumuman pemenang bakal diumumin via twitter & FB jam 5 sore hari itu juga.

Tersedia 2 T-shirt/ polo shirt keren dari plainteeclothes (bebas pilih model & ukurannya) + 2 pin “Semester Disaster” bagi 2 orang pemenang. Hadiah akan dikirim (dan diusahakan sampe) sebelum lebaran. Jadi nggak perlu khawatir nggak dapet baju lebaran hehe 😀

Nih hadiahnya:

Tunggu apa lagi? Ayo buruan ikutan QUIZ-nya! 😀

FIM Dancer Goes To NY (NgaYogyakarta)

Posting kali ini mungkin lebih asyik upload foto-foto pas di Jogja aja kali ya, karena kemaren baru ada acara di sana. Singkatnya, seminggu kemaren ada acara launching buku Keydo di Jogja dan gue berkesempatan untuk gabung di FIM Dancer membawakan tari indang khas Minang dan sajojo dari Papua.Bingung tari indang itu kayak gimana, silakan lihat disini. Untuk sajojo silakan lihat di sini.

Baiklah, ini beberapa pose yang sempat diabadikan oleh kamera. Awal bulan biasanya banyak razia. Beruntungnya kita ditangkep, karena lagi ada razia muka ganteng dan cantik #abaikan.

Dari foto di atas tergambar kalau kami memang total dalam penampilan. Kostum yang sudah ready, gesture yang sesuai, ekspresi yang meyakinkan dan tentu saja kami punya niat menari indang dan sajojo. Gue lupa nama pakaian tradisionalnya apa. Yang jelas ini pakaian adat dari minang. Pertanyaan gue yang paling mengusik adalah “Bisakah tinggi badan gue membalap rekan-rekan yang lain?”

Pose saling serong. Serong kanan serong kiri. Masih tetap dengan pakaian adat minang. O iya, belum dikasih tau nih nama-nama personilnya. Ini dia skuad tari kita:

Ki-Ka Atas: Jalil-Gue-Gilang-Trio-Ryan

Ki-Ka Bawah: Ratna-Nadia-Wulan-Yola-Ika-Dila

 

Ini adalah foto kebelet. Maksudnya, kebelet  pengen foto di tugu perbatasan. Sejak jauh-jauh waktu sebelum sampe perbatasan, kita sudah mengingatkan Om Udin untuk berhenti di perbatasan dan mengambil foto.

Foto dan video lainnya menyusul ok 😀

Apa Kabar, Fi?

Bagaimana memulai sesuatu tanpa harus bertanya, “Apa kabar?”. Dan bagaimana menjawab sebuah permulaan tanpa berkata, “Baik”. kamu tahu, aku berpikir keras untuk menghindari sapaan biasa dalam setiap perjumpaan kita. pertanyaan yang diulang ribuan kali dan selalu dijawab dengan jawaban yang sama. apakah kamu pernah memikirkan hal ini? mencoba untuk menggantinya dengan pertanyaan lain?

Namun selalu, aku tak bisa menggantinya. Selalu saja begitu, aku bertanya kamu yang jawab. Kamu tanya, aku jawab juga.

“Apa kabar?” tanyamu, juga tanyaku.

“Baik”. aku jawab, kamu juga jawab begitu.

Kamu tahu, kalimat di atas seperti menu wajib yang harus ada. Kalimat di atas seperti sebuah permulaan dimulainya segala sesuatu. Jadi bagaimanapun kamu dan aku ingin menggantinya, toh pada akhirnya kita menyerah juga.

Kadang aku berpikir mengapa aku harus menjawab “Baik” padahal sebenarnya tidak. Mengapa untuk melakukan hal baik kadang aku atau dirimu harus berbohong, berbohong dengan berkata, “Baik”.

aku jadi curiga, jangan-jangan tidak hanya kita saja yang melakukan hal demikian. Jangan-jangan teman dekatmu, adikmu, sepupumu, bahkan mungkin orang tuamu pernah melakukan hal itu. Aku juga memprediksi bahwa teman-teman dekatku hampir semuanya pernah melakukan hal demikian. Aku yakin.

Jika kamu tanya mengapa aku mempersoalkan masalah “apa kabar” dan “baik”, sebenarnya aku tak punya jawaban pasti. Yang aku tahu, aku tak sedang berbohong. Memberi kabar padamu bahwa diriku baik-baik saja jauh lebih menentramkan dibandingkan aku harus mengatakan yang sebenarnya–tidak dalam kondisi baik. Begitu juga sebaliknya.

Sungguh, aku tak sedang berbohong.